Wisata Sepeda Menyusuri Perpaduan Budaya Pangandaran

Wisata ke pantai-pantai Pangandaran yang katanya terindah di pulau Jawa itu sudah pasti masuk itinerary. Atau rame-rame rafting di Green Canyon? Ah, itu juga sudah pasti terpikirkan. Nah, gimana kalau wisata sepeda keliling kampung-kampung Pangandaran? Pembaca harus coba pengalaman serunya kalau mau beneran ‘mengenal’ Pangandaran, seperti pengalaman yang saya dan teman-teman blogger dari Indonesia, Malaysia, dan India, dapatkan dalam trip #ExploreWestJava atas undangan West Java Tourism Board.

Hari pertama di Pangandaran, 14 Desember 2015, kami diajak bersepeda menyusuri kampung-kampung Pangandaran. Tentu saja saya semangat karena sudah lama tidak bersepeda, apalagi keliling kampung yang masih asli seperti di sini. Gerimis pun tak menyurutkan semangat kami untuk wisata gowes dengan pemandangan serba hijau yang menyejukkan mata.

pic by cumilebay.com

Setelah menyusuri jalan kampung yang kecil dan berbatu, sampailah kami di pemberhentian pertama, lapangan rumput luas yang langsung menghadap pantai Selatan, di mana di tengah-tengahnya bertengger sebuah perahu nelayan. Tapi…ada bau ikan asin yang menyengat! Ternyata memang bukan lapangan rumput itu tujuan kami, tetapi sumber aroma tadi.

Di pinggiran lapangan itu terdapat beberapa rumah anyaman bambu, di mana ada seorang ibu yang sedang membersihkan ikan di depan rumahnya. Ikan-ikan ini akan dijadikan ikan asin. Kami sempat turun dari sepeda untuk mengambil gambarnya dengan kamera. Desa Babakan ini memang desa nelayan pengrajin ikan asin (jambal), salah satu oleh-oleh khas Pangadaran. Desa Babakan ini lokasinya 1 km ke arah Timur dari 0 km Pangandaran.

Setelah puas memotret, kami melanjutkan bersepeda ke desa Tegal Jambe, sesekali berhenti untuk ambil foto beberapa spot desa yang masih asri dan penuh pepohonan itu. Ternyata dari Babakan ke Tegal Jambe, kami harus menyeberangi sungai menggunakan sampan, sehingga sepeda-sepeda pun ikutan naik sampan. Sampai di kampung seberang, hujan mulai turun dengan derasnya, terpaksa kami menepi sejenak dan memasang jas hujan, meski akhirnya kami lanjutkan juga bersepeda di antara hujan, karena menganggap hujannya akan bertahan lama.


Sampai di desa Tegal Jambe, ternyata ada kejutan yang menunggu! Di pekarangan rumah warga, rombongan kami disambut oleh warga desa dengan pertunjukan musik kentongan, begitulah mereka menyebutnya. Sementara ibu-ibu sibuk mengeluarkan jajanan pasar dan menata mejanya.

Seni kentongan yang dimainkan oleh beberapa pria ini terdiri dari alat musik bambu yang dipadukan dengan gamelan dan kendang, mengkolaborasikan seni Jawa dan Sunda, sehingga jadi musik yang enak didengar. Lead singer-nya pun unik, memakai riasan penuh seperti punakawan dalam pertunjukan wayang, sehingga menarik perhatian.

video by Bramadity

Di samping rumah warga itu pula, kami diberi kesempatan melihat langsung cara membuat gula merah dari aren. Warga masih menggunakan cara yang sangat tradisional, berupa tungku dan kuali besar untuk memasak dan mengentalkan gula. Setelah gula mengental dan berwarna kemerahan, gula dituang ke dalam cetakan. Ternyata proses mencetaknya singkat sekali, tidak sampai 15 menit!

Selain pembuatan gula merah atau gula jawa, desa Tegal Jambe ini juga tempatnya pengrajin atap rumah dari daun nipah.

Yang pasti, banyak yang bisa kamu temukan dengan bersepeda keliling Pangandaran, jadi..wajib dicoba. Tidak sulit menemukan rental sepeda di sini. Mulai dari sepeda umum, kapasitas untuk dua orang, hingga sepeda tandem untuk berempat atau lebih. Bentuknya pun bervariasi dengan hiasan dan lampu warna-warni untuk malam hari. Harga sewa sepeda ini berkisar Rp. 25.000 – Rp. 50.000/jam.

Mau nyoba pengalaman unik lagi? Coba keliling Pangandaran naik odong-odong! Kalau di Jakarta dan kota lain odong-odongnya khusus untuk anak-anak, di Pangandaran beda, odong-odongnya juga untuk orang dewasa. Di sini disebut Odong-odong gowes.
Odong-odong ini digunakan dengan cara mengayuh pedal sepeda layaknya becak, di mana tiap penumpang akan mengayuh pedal dengan kecepatan yang sama, seperti sepeda tandem, bedanya, dilengkapi dengan setir dan dilengkapi atap di atasnya. Banyak di antaranya berbentuk mobil kodok, yang dihiasi lampu warna-warni, lengkap dengan audio. Sewanya berkisar Rp 50.000 per jam saat weekend, dengan jumlah penumpang 4 hingga 6 orang.

video by Bramadity

Selagi di Pangandaran, tonton juga seni Kuda Lumping atau Ebeg. Seperti kuda lumping di Ponorogo, pertunjukan ini menyuguhkan atraksi magis, seperti kesurupan, kekebalan tubuh terhadap pecut, beling, paku, dan lainnya, bedanya, kuda lumping di sini juga menyajikan humor yang unik saat mereka tampil. Suara-suara pemain berubah menjadi lebih kecil dan melengking sehingga membuat lucu saat mendengarnya.

Lokasi Pangandaran yang bertetanggaan dengan Jawa Tengah membuat beberapa kesenian merupakan perpaduan Jawa Barat dan Jawa Tengah, bahkan sebagian warganya pun berbahasa Jawa.
Itulah istimewanya Pangandaran, tidak hanya kaya akan alam dan pantai saja, tetapi juga kaya akan budaya, kesenian, dan kearifan lokalnya.

[wpdevart_youtube]9IL7-JHmCAA[/wpdevart_youtube]

 

 

6 thoughts on “Wisata Sepeda Menyusuri Perpaduan Budaya Pangandaran

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *